Aqiqah Madenah – Perayaan Hari Raya Idul Adha tidak lengkap tanpa mengingat sejarah Qurban yang terkait dengan kisah Nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail. Ayah dan anak ini menunjukkan arti ketaatan yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Melalui kisah mereka, kita bisa mengenalkan makna berqurban di Hari Raya Idul Adha 1445 H, yang jatuh pada 17 Juni 2024.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail

Mengutip dari buku Seri Kisah Nabi: Kisah Nabi Ismail AS oleh Rina Dewi, berikut adalah kisah Nabi Ibrahim dan Ismail yang bisa Bunda ceritakan kepada si kecil agar ia tahu asal mula dan makna berqurban.

Kisah ini dimulai ketika Nabi Ibrahim AS mengunjungi istri dan anaknya, Hajar dan Ismail, di Mekah. Suatu hari, Nabi Ibrahim bersama Hajar dan Ismail menggiring ternak yang berjumlah banyak. Karena lelah, mereka memutuskan untuk bermalam di Masy’aril Haram. Malam itu, Nabi Ibrahim bermimpi diperintahkan untuk menyembelih Ismail sebagai Qurban kepada Allah SWT.

Pagi harinya, Nabi Ibrahim masih terdiam dan tidak menceritakan mimpinya kepada Hajar dan Ismail, khawatir mereka akan ketakutan. Perjalanan pulang mereka lanjutkan, hingga akhirnya tiba di rumah di Mekah. Di sana, Nabi Ibrahim kembali bermimpi yang sama. Ketika terbangun, dia semakin resah dan akhirnya yakin bahwa mimpi itu adalah perintah Allah SWT.

“Wahai, Ibrahim! Sembelilah Ismail untuk berkurban kepada Allah SWT!” demikian suara dalam mimpi Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim lalu memberanikan diri untuk menceritakan mimpinya kepada Ismail. Meskipun berat, Ismail menunjukkan ketabahan dan menerima perintah Allah dengan sabar.

“Ayah, apa pun perintah Allah SWT, katakanlah! Saya akan tetap sabar dan sabar. Sebagai orang beriman, apa pun perintah Allah SWT harus dilaksanakan. Jelaskanlah, saya akan tabah dan sabar mendengarnya,” kata Ismail.

Setelah itu, Nabi Ibrahim juga menyampaikan hal tersebut kepada Hajar. Walaupun sedih, Hajar menerima keputusan itu karena perintah tersebut berasal dari Allah SWT.

Nabi Ibrahim kemudian membawa Ismail ke Bukit Malaikat di daerah Mina. Dalam perjalanan, iblis berulang kali mencoba menggoda mereka, tetapi Nabi Ibrahim berhasil mengusirnya. Setibanya di bukit, Nabi Ibrahim membaringkan Ismail di atas batu besar dan menutup wajahnya dengan kain agar tidak melihat anaknya disembelih.

Namun, saat hendak menyembelih, pisau yang digunakan Nabi Ibrahim tidak mampu melukai Ismail. Saat itulah Malaikat Jibril datang membawa pesan Allah SWT dan menggantikan Ismail dengan seekor kibas (domba) untuk disembelih.

“Hai Ibrahim! Sungguh kau telah siap untuk melaksanakan perintah Tuhan! Allah SWT akan mengampunimu dengan ketaatanmu itu. Hai Ibrahim! Sembelilah kibas ini sebagai pengganti Ismail! Makanlah dagingnya, jadikanlah hari ini sebagai hari raya bagi kalian berdua dan sedekahkanlah sebagian dari dagingnya untuk fakir miskin sebagai kurban!” demikian kata Malaikat Jibril.

Peristiwa ini menjadi mukjizat yang menunjukkan bahwa perintah pengorbanan tersebut hanya ujian dari Allah SWT untuk menguji ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail. Allah SWT berfirman dalam Surat As-Saffat ayat 102-107,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ. فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاَءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ. [الصافات

Artinya: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab, Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [QS. ash-Shaffat (37): 102-107]

Setelah mendengar firman Allah SWT tersebut, Nabi Ibrahim menyembelih kibas yang sehat dan besar dengan mengucapkan nama Allah SWT.

Kisah ini tertulis dalam Al-Quran dan menjadi dasar perayaan Idul Adha. Melalui cerita ini, kita bisa mengajarkan kepada anak-anak tentang ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Ismail, serta makna Qurban di Hari Raya Idul Adha. Nabi Ibrahim menjadi teladan sebagai ayah yang taat, sementara Ismail adalah anak yang sabar dan patuh. Dari kisah mereka, anak-anak dapat belajar pentingnya ketaatan dan pengorbanan.

Ilustrasi Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, (Foto: Perbankan Syariah)

Penulis: Elis Parwati

Kategori: Blog